Ala-ala Mendoakan si Teman Hidup (Part 2)

images (1)

“No job, no hobby, no activity on Earth can compare with the drama and the exhilarating experience of living with a man, loving him, doing your best to understand his infinitely complex mechanism and helping to make it hum and sing and soar the way it was designed to” (Perkataan Ruth Peale, istri Norman Vincent Peale, yang saya baca di tulisannya Ibu Yunie Sutanto dalam Blog Majalah Pearl).

Sambungan Part 1 ini…

Ceritanya beberapa waktu lalu, saya terlibat pertikaian sengit dengan seorang pria, teman sekantor. Bagi saya, berantem kali ini betul-betul menguras emosi, nangis-nangis, gemetaran saat dia gebrak meja, uring-uringan, sukacita saya hilang setiap kali melihat dia. Untuk pertama kalinya saya mendapati ternyata hati saya ini keras sekali, huhuhu…
Padahal sebenarnya saya ga tahan berantem lama-lama lho, apalagi nahan say sorry, tapi kondisi ini betul-betul tak terpahami. Beberapa kali saya mohon,

“Tuhan, tolong lembutkan hati saya”

Tapi tiap kali lihat dia, ego saya kembali memuncak dan yang ada pertikaian semakin parah.
Okay, saya harus mengaris bawahi kalau teman berantem saya kali ini adalah seorang cowo, dimana jelas bahwa pride dan ego adalah label-nya cowo. Semua orang yang se-ruangan dengan kita sampai kena imbasnya juga, ahahaha…
Akhirnya dengan satu keajaiban, kami pun berdamai. Dia mengalah dan saya pun minta maaf.
Sesudah pertikaian itu berakhir, saya diajak ngobrol sama dua orang ibu yang se-ruangan dengan kita juga. Sepanjang kami mengobrol, saya merasa seperti mengikuti kelas konseling pra-nikah, ehehehe…

“Gila ya Men, lu keras banget ternyata orangnya, mungkin itu sebabnya masih jomblo sampai sekarang.”

Oops, saya langsung membela diri,

“Haduhh bu, gw pun kaget mendapati sekeras ini ternyata hati gw, tapi ga itu juga kali ya, yang menghalangi gw bisa pacaran”

Kemudian yang seorang lagi bilang,

“ini masih urusan dengan teman ya Men, gimana lagi kalo ntar dengan suamimu?”

“Sana gih, belajar banyak tentang cowo, belajar cara berkomunikasi, biar tahu cara memperlakukan suamimu kelak”

Habis itu, saya jadi menyadari bahwa saya perlu belajar dan berjuang untuk urusan TH ini. Perjuangan itu bisa dilakukan lewat doa, bukan hanya karena orang itu belum datang, tapi karena saya pun perlu melatih diri menjadi istri yang berdoa.

Ada beberapa hal yang ingin saya sharingkan berkaitan mendoakan TH ini,

• Mendoakannya sebatas topik doa saja
Ada kalanya doa tentang TH hanya jadi suatu formalitas di jam doa kita. Bahkan dengan berbagai kesibukan dan kegiatan, bisa jadi kita suka lupa mendoakan TH dengan serius. Kita mungkin berpikir, ‘Tuhan pasti tahu kok yang terbaik’.Saya berhati-hati sekali kalau ada di kondisi ini. Kehidupan doa yang baik perlu diusahakan tiap hari. Tanpa kehidupan doa yang baik, rasanya mustahil menggumulkan urusan TH dengan serius.

Syukurnya, saya ingat ada beberapa kejadian kecil yang bisa membuat saya kembali serius mendoakan TH. Salah satu cerita, ketika ada orang yang pegang tangan saya dengan tidak sopan (ahahhaaa…maksa ya contohnya) Tapi malamnya waktu doa saya bilang,

“Bapa, kiranya orang yang mengenggam tanganku kelak adalah orang yang bertanggung jawab, yang bersedia menjaga dan berkenan dihadapanMu, aku ga mau disentuh sembarangan orang”

Sekarang mah bisa ketawa ngingatnya, tapi waktu di hari kejadian saya sampai trauma segala, ehehehe…

• Berdoa mengharapkan orang yang ‘langsung jadi’
Biasanya tiap ulang tahun, kita pasti kenyang deh dengan wishes kaya gini,

“Semoga segera dipertemukan dengan Godly Man”

“Kiranya dipertemukan dengan orang yang senantiasa mengandalkan Tuhan”

Nah, kita juga cewe-cewe, kalau ditanya kriteria pria idaman, umumnya pasti jawab:

– Takut akan Tuhan

– Seimbang dan sepadan dengan kita (bisa jadi dalam dalam hal pola pikir, fisik, kedewasaan rohani, kematangan, sisi ekonomi, dll)

– Perhatian dan sayang banget sama kita

– Kaya raya, ini versi matre ya, tapi setidaknya pasti mengharapkan orang yang mandiri secara finansial. Kita tahu hidup kita kelak tak akan terlantar karena tahu pria itu bersedia bekerja keras.

– Setia, kita ga khawatir kalaupun dia dikelilingi banyak cewe cantik lainnya karena kita tahu pasti, kita yang jadi juara di hatinya.

– Bisa memaklumi kekurangan kita yang tidak bisa diubah dari sononya

– Mendorong kita untuk semakin bertumbuh dalam Tuhan

Cowo banget (kriteria pasti untuk cewe-cewe yang ga mau disaingi urusan ke salon sama dandan,ehehehe…)

– Tampan rupawan dst,dst…(tiap orang pasti listnya beda-beda)

Coba deh diinget lagi nasehat orangtua, tentang orang seperti apa yang diharapkan mereka untuk menjaga anak perempuannya ini. Saya terharu deh, saat seorang kakak memberitahu nasehat orangtuanya,

“Nikahilah pria yang bersukacita memberimu makan, yang cemas melihatmu sakit, yang merasa bersalah ketika ia memberimu sedikit, yang mau menghabiskan hari-harinya bersamamu, yang membantumu menemukan solusi atas kesulitan yang kamu hadapi, dan yang selalu paling bersemangat mengajakmu beribadah”

Waktu saya tanya,
“Dimanakah pria seperti ini ditemukan kak?”

Dia dengan enteng menjawab,

“Karena belum ditemukan, makanya aku masih jomblo sampai sekarang”
Ahahaha… Kocak banget dah menurut saya.

Papa saya beda lagi sista, sejak saya SMP , beliau sudah bilang,

“Kelak harus tunduk sama suamimu ya Rie”

Dulu saya ga paham kenapa dikasih nasehat begitu, tapi ketika saya tahu nasehat si Papa berasal dari Efesus 5:22 ‘Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan’, saya merasa Papa kece banget. Dari awal dia tahu saya butuh orang yang bisa membuat saya tunduk sekaligus saya belajar penundukan diri sedari awal, mengingat betapa keras, cerewet dan dominannya saya ini. Aaaah, love you Pa, walau sampai sekarang tak seorang pria pun pernah saya bawa ke rumah, ahahaha…

Dari cerita diatas, bukankah sedikit menyiratkan bahwa kita mengharapkan orang yang ‘langsung jadi’?

Ga ada yang salah dengan mengharapkan orang yang sudah ‘langsung jadi’. Semua pasti mengharapkan orang yang terbaik untuk mendampinginya.

Tapi tidakkah kita juga terbuka untuk orang yang sedang diproses menjadi Godly Man itu?

Yakinlah, the dearest future husband sedang diproses menjadi Godly Man, mari doakan proses pendewasaan karakternya, pekerjaannya, imannya (*Bersambung ke part 3). Kita juga ladies, harus rela diproses menjadi Godly Woman. Kita bisa banget lho bertumbuh lewat doa-doa kita berkaitan TH.

• Berdoa dengan berbagai bayang-bayang ketidakpastian
Sepanjang yang saya tahu, bagian inilah yang paling menguras air mata beserta emosi jiwa dan raga. Ada yang bergumul dengan restu orang tua, sakit penyakit, sehingga tidak tahu pasti bagaimana akhir hubungan yang sedang dijalani. Ada yang pacaran bertahun-tahun tetapi harus berpisah juga karena tidak ada kepastian akan hubungan yang dijalani. Ada yang mempersiapkan pernikahan, berantem hebat sampai betul-betul ragu,

“Benarkah orang seperti ini yang ingin kunikahi?”

Atau kita yang masih jomblo, mungkin pernah doa sampai nangis-nangis segala,

“Apakah Engkau berkenan, aku menjalani hubungan dengan orang ini?” (dalam kondisi kita tidak yakin sama sekali dengan orang itu)

“Bapa, orang ini maksudnya apa?, dia sungguh-sungguh datang, atau hanya mau main-main aja ?”

“Tuhan, aku harus buat apa? Supaya dia menyadari aku begitu mengasihinya”

Atau yang versi ekstrim,
“Harus sama yang ini ya Tuhan, ga mau yang lain” ahahahaa…

Kalau Tuhan bisa kasih ‘Not Him’ dalam hati kita, Dia juga pasti bisa kasih ‘That’s Him’ supaya kita yakin teguh sama seseorang. Ceritanya agak panjang kalau baru hanya kita aja yang dikasih keyakinan itu, sementara yang cowo ga merasakan apapun. Tetaplah bedoa dan tetaplah menguji apa yang sudah Tuhan kasih di hati kita (Ngomong sih gampang banget ya…orang yang menjalani bisa jadi nangis darah tiap hari, ehehehe…)

Atau bagaimana kalau kondisinya, kita dan pria itu uda sama-sama sadar ‘something happen’, tapi dia belum menyatakan perasaan juga, belum pacaran, ga pake temenen tapi mesra, dan kondisi yang tidak memungkinkan. Sama-sama tahu kalau kita berdua sebenarnya sama-sama tersiksa dengan ketidakpastian ini. Ahahhahaa…ini ribet banget kan.

Tapi apapun yang terjadi, tenanglah, mungkin hanya menunggu waktu saja, tetaplah berdoa (Again, ngomong sih gampang banget yak..). Kita sebagai perempuan kudu inget God’s Design, biarkan pria itu yang berinisiatif duluan.

Beberapa kali berada di kondisi ‘ketidakpastian’ membuat saya tahu rasanya bagaimana berlinangan orang mata, bagaimana harus bersabar, bagaimana nahan kangen yang ga jelas.

Dan kalian para pria yang membaca tulisan ini, tolong tanamkan di hati, perempuan itu butuh kepastian, Ahcieeeee, ceritanya belain perempuan-perempuan lho.

Kita juga girls, bisa kok menjaga hati kita, sebelum pria itu datang menyatakan perasaannya dengan sungguh-sungguh, jangan libatkan emosi dan perasaan kita terlalu jauh, kalau engga, ya harus siap kalau satu hari nanti bakal nyanyi-nyanyi ‘sakitnya tuh disini’ Ahahahaha…

Yang bisa kita lakukan dengan pasti adalah berdoa dengan sungguh-sungguh dan mengingat kalau kita punya Tuhan yang mengendalikan segala sesuatunya, dan yang hanya merancangkan kebaikan bagi kita. Bagaimana pun sakitnya, bagaimana pun sulitnya keadaan, bagaimana pun ketidakpastiannya, choose to trust Him, Our Lord. (Sambil nangis lho ini nulisnya, huaaaa…)

Di part 3, kita bakal lihat bagian apa saja yang bisa kita doakan berkaitan dengan doa TH ini, supaya doa-doa kita bukan doa-doa yang biasa tapi doa-doa yang menumbuhkan iman kita juga

*to be continued…

Ala-ala Mendoakan si Teman Hidup (Part 1)

images

Hayuu ngacung yang masih bergumul dengan persoalan Teman Hidup (TH)?

Saya yakin masih banyak yang berdiri sebarisan dengan saya. Mari kita semangat sista! Ehehehe…
Awal saya kuliah (tahun 2004), kakak PA saya sedari awal menyuruh kami untuk mulai serius mendoakan urusan TH,

“Kita berdoa untuk kuliah, keluarga, kesehatan, dan berbagai aktifitas kita dengan serius setiap hari. Masakan kita tidak mau mendoakan dengan sungguh-sungguh orang yang bakal menemani kita sepanjang hidup kita kelak.”

Selama hampir belasan tahun ini, sudah tak terkira banyaknya hal yang terjadi.
Mari kita buat list, saya yakin, banyak dari antara kita yang punya pengalaman yang sama. Toss dulu kita 

* Yang awalnya mendoakan TH hanya karena sebatas proyek ketaatan dari kakak PA

* Diam-diam suka orang lalu mendoakannya

* Merasakan jengah nya berteman dengan cowo yang bilang kalau dia sedang mendoakan kita (dalam kasus kita ga punya perasaan lebih sama orang itu)

* Senangnya diperhatiin dan disayang banget sama seseorang

* Ga enak banget ketika kita tidak bisa menerima cinta seseorang (ternyata menolak cinta orang lain itu menyakitkan juga ya), tapi lebih baik gitu kan daripada pura-pura bersedia menjalani suatu hubungan.

* Senyam-senyum dalam hati ketika ketemu orang yang sempet menyatakan perasaan cintanya ke kita.

* Langsung luluh ketika cowo yang kita taksir mengajak berdoa bersama

* Ngecengin berbagai jenis pria, kemudian patah hati lalu berjuang bangkit lagi

* Dengan senang hati meladeni kerepotan, telpon, dan chat dari orang yang kita suka

* Nangis bombay sewaktu menyadari ternyata kita butuh orang yang menjaga kita

* Berulang kali baca kitab Mazmur, yang sepertinya jadi kitab favorite orang-orang dalam masa penantian

* Berbagai pengalaman di pdkt-in, dijodohkan, kopi darat and so on.. and so on…

(tahu ga, saya buat list ini sambil ketawa-ketawa, wkwkwkwk)

Saudaraaaa, ini sudah tahun 2015 dan kisah cinta saya sepertinya masih muter-muter disitu aja.
Toss lagi, buat yang kondisinya sama seperti saya, ahahahaha…

Awal tahun 2015, saya kembali terlibat dalam sebuah perjodohan. Perjodohan kali ini agak sedikit tidak main-main, karena yang mengaturkan adalah adik saya dan seorang kakak rohani. Yang buat jadi WOW, si mama juga tahu, sampai ngomong,

“Nang, sudah dihubungi abang itu? Jangan menutup diri ya”

Itu untuk pertama kalinya mama turut serta dalam urusan menjodohkan saya.

Okay Ma, aku pasti welcome kok, santai aja”

Namun entah kenapa, dalam hati saya merasa Tuhan bilang ‘not him’,
dan lihatlah sampai sekarang abang itu tidak menghubungi sama sekali. Dalam hati saya bersyukur, bisa saja itu cara Tuhan untuk menjaga kami berdua dari sakit hati yang tidak perlu.
Jujur, pasti ada air mata ketika satu perjodohan dimulai kemudian gagal, apalagi ketika sudah ada ’bunga-bunga’ atau ketika perasaan serta emosi saya sudah terlibat, huaaaa…

Seiring bertambahnya usia, saya jadi paham dengan apa yang disebut para kakak senior,

“Aku mulai jenuh dan mungkin lelah…”

“Capek aah, paling-paling orang itu ga jelas juga…”

“Sekarang aku uda tinggal pasrah sama Tuhan…”

“Kayanya yang ini juga engga…”

“Aku mah uda biasa dilangkahi adek-adek…”

“Aku uda kebal pun dijodoh-jodohin dan ditanyain urusan nikah…”

“Doain aja ya…”

Dan saya pun entah sudah sejak kapan tidak lagi berdoa seperti ini,

“Benarkah ini dia yang Engkau kehendaki untuk mendampingiku?”

“Benarkah dia yang kuingini menjadi daddy-nya anak-anakku kelak?”

Mungkin karena sudah ikhlas kali ya, menjalani masa jomblo ini atau saking bingungnya,

“Sebenarnya hatiku ini Engkau arahkan kemana ya Tuhan?” wkwkwkwkwk

Apapun itu, sepertinya saya sudah sampai di phase ‘terserah Tuhan saja’. Bukan putus asa, tapi lebih membiarkan Tuhan bekerja. Sampai terjadi satu peristiwa dan saya teringat bahwa saya pun harus berjuang, berjuang lewat doa. Jelas ya sista, berjuang lewat doa, bukan ngebet ngincer cowo yang kita suka, ngejar-ngejar kecengan kita dengan agresif, sampai mungkin pakai memamerkan apa yang ga perlu dipamerkan..A BIG NO..ehehhee

*to be continued…

Where is he, Lord?

where is he Lord

Rasanya Nano-Nano pasca libur Lebaran tahun ini. Seminggu travelling bersama ade-ade PA di Pulai Bali dan Gili, seru-seruan main di pantai, snorkling, ketawa-ketawa gila.

Daaaaaan tepat di hari pertama ngantor, saya, perempuan ini, dalam sekejap sempat jadi mellow, huhuhu

Saya masuk kantor lebih pagi dan disapa bapak security

‘Ibu, ada paket…’ sambil menyodorkan amplop coklat.

Oh, langsung keinget, sewaktu di Bali, seorang sahabat dekat menelpon saya menanyakan alamat pengiriman undangan pernikahannya.

Okaaay, si undangan masih diletakin di atas meja kerja, buru-buru ngejar timesheet dan kerjaan yang uda numpuk lantaran ditinggal liburan.

Sebelum jam istirahat, ada SMS dari si nona manis pengirim undangan,

‘Rie, undangannya uda sampe? Satpam yang menerima namanya Budiman ya.’

Masih belum sempet saya balas, beneren sibuk ngurus kerjaan.

Ga berapa lama kemudian, Ibu yang duduknya persis di depan saya dan seorang teman kantor, sebut saja namanya Obenk dengan sigap membuka amplop undangan, meneliti isinya dan kemudian dengan iseng bilang,

‘Menrie kapaaaaan?’

Saya menanggapi dengan ringan sambil senyum manis, secara saya perempuan paling cantik di ruangan yang punya bolongan gede di pipi (lebaaay).

Mereka berdua bertingkah layaknya sejarawan dan pakar analisis sehingga sampai pada kesimpulan:

Saya orang terakhir dari temen-temen se-kost-an yang seangkatan zaman kuliah dulu yang belum menikah bahkan belum punya pacar. Menurut mereka itu fakta yang ‘tragis’, padahal saya biasa aja lho, hehehe..

Mereka uda biasa mem-bully saya untuk urusan ‘segera menikah’.

Selesai makan siang, saya chat dengan sang calon pengantin perempuan, si pengirim undangan.

‘Undangannya sudah sampai inang, selamat berbahagia ya…’

Kita masih chat panjang lebar dan kemudian diakhiri dengan kalimat ini darinya

‘Rie, dirimu cepat menyusul ya inang…’

 Deeuuh, mendadak feeling blue. Saya merasa kalimat terakhir itu adalah doa yang tulus dari seorang sahabat . Tanpa sadar butiran bening menumpuk di sudut mata, dan refleks bibir saya berkata,

‘Where is he, Lord?’

And then………………………

pertanyaan itu berhasil menyesakkan diri saya sendiri, sampai harus stay beberapa lama di toilet kantor untuk menenangkan diri.

Saya pun ga menyangka, kejadian sederhana itu bisa membuat saya galau. Setelah dipikir-pikir, saya jadi malu sendiri. Pasalnya waktu liburan bareng ade-ade PA, di jidat saya ini seolah-olah tertulis,

‘Ini lho kakak kalian, dia santai aja tuh, ga terlalu musingin urusan pacaran dan nikah sekarang’

Padahal baru sehari balik ke Bandung, mendadak jadi perempuan lemah yang bercucuran air mata.

Syukurnya itu ga berlangsung lama, dengan cepat saya berhasil menguasai diri.

Serius deh, liburan kali ini bisa dibilang ‘sesuatu banget’ bukan hanya keseruannya tapi juga sharing-sharing kami. Masing-masing kami bisa dikategorikan inner-circle untuk yang lainnya. Jadi kami bisa ngobrol sebebasnya, dari hati-ke hati tanpa merasa dihakimi. Hingga terkuaklah berbagai cerita selama kami terpisah bertahun-tahun. Hal-hal simple yang bisa buat kami cekikikan dan ngobrol sampai ngantuk, siapa yang lagi dekat sekarang, sempet doain siapa aja, siapa yang lagi diincer. Nah, gitu-gitu deh. Urusan TH (Teman Hidup) menjadi hot topic untuk para jomblo yang liburan bersama kali ini.

Inilah beberapa poin yang kudu saya inget terus:

 1. God’s Design

Kita bilang itu sebagai God’s Design. Pria berperanan sebagai leader, insiator dan perempuan sebagai penolong. Kadang ini suka dilupain sama cewe-cewe. Suka agresif ga jelas, seolah-olah membenarkan kenyataan stok ‘pria baik’ kalah banyak dengan stok ‘perempuan baik’.

Dari dua ilustrasi dibawah ini, saya rasa ga ada perempuan yang betul-betul setuju sama keadaan ini.

Ilustrasi pertama:

Ada cowo yang ngajak kita ketemuan (kasusnya ketemuan pertama kali atau ajakan kencan pertama), jalan, makan bareng trus terakhirnya jadi bayar masing-masing atau lebih parahnya lagi, dia minta dibayarin. Walau ga bermaksud matre, yang jelas si pria uda memberikan kesan ‘gagal’ jadi inisiator yang baik.

Ilustrasi kedua (berdasarkan artikel dari majalah online yang saya baca):

Ada seorang cewe, yang sejak berkenalan dengan seorang cowo seperti mengambil alih peran leader dan inisiator. Bayangkan, perempuan ini yang berinisiatif untuk menjalin hubungan, selalu memulai pembicaraan chat dan telepon, hampir selalu menentukan waktu dan tempat kencan. Singkat cerita mereka menikah dan setelah tiga tahun hidup pernikahan mereka, si perempuan merasakan kelelahan yang luar biasa dalam hidup pernikahannya.

Tragis banget kan, si perempuan itu membawa dirinya sendiri ke kehancuran. Bisa jadi dari awal, si pria tidak mencintainya sama sekali.

 

Eeeaaaa…Dicari…Dicari…Dicari.. pria yang mampu menjalankan perannya sesuai rancangan Allah.

Nah, kita juga kaum perempuan kudu banyak belajar supaya jadi penolong yang baik dan peka melihat apakah pria yang kita incer itu mampu menjadi pemimpin untuk rumah tangga kita kelak.

 

2.Respon Orangtua

Ini nih penting banget. Kita berempat, yang liburan bareng, sedikit banyak punya pengalaman pahit dalam urusan TH.

Ada catatan penting, orang tua sebaiknya tau ketika kita mulai menjalin hubungan ke arah yang lebih serius. Ya kalau hanya naksir-naksir dikit atau getar-getarnya hanya sebatas suka lihat tampangnya aja sih, ya ga usah laporan kali ya. Ntar orang tua mikir kita ganjen abis.

Respon orang tua bisa dibilang sebagai jawaban doa saat kita menggumulkan seseorang. Percaya deh, orang tua yang baik dan dewasa pasti mau yang terbaik juga untuk anaknya.

Walau tidak sedikit juga pasangan-pasangan yang berjuang untuk meyakinkan orang tuanya terhadap pilihan hatinya, kan lebih baik lagi kalau sudah direstui dari awal. Ga menguras emosi jiwa dan raga di kemudian hari.

 

 3. Mengerjakan Impian-impian di Masa Penantian ini

Ga sedikit lho yang jadi stuck di masa penantian ini. Karena si future husband belum diketahui keberadaannya sampai sekarang, bukan berarti kita jadi ga ngerjain apa-apa lantas menggalau setiap saat. Please, Do something…

Jujur, project buku KHB (Ketika hati Berbicara) memberikan andil yang luar biasa bagi saya dalam masa penantian ini. Semakin dibukakan banyak impian yang bisa saya kerjakan di masa-masa ini. Saya jadi tau ada banyak orang yang bergumul tentang hal yang sama dan mereka tetap berkarya.

Dan di liburan kemarin, kita saling buka-bukaan tentang hal-hal apa saja yang mau dikejar kedepannya.

What a wonderful travelling.

 

 

Happy waiting and keep inspiring others

Singer VS Worshipper

 

Image

‘Srahkan kuatirmu padaNya

Srahkan sgala bebanmu di kakiNya

Bila Engkau merasa bimbang dan kecewa

Srahkanlah kuatirmu padaNya

Kusrahkan kuatirku padaNya’

Itulah pujian yang paling menenangkan ketika saya duduk di bangku jemaat. Waktu itu kondisi saya sangat tidak baik, demam setiap hari, mimisan dan sering pingsan. Hati saya hancur sewaktu seorang dokter mengatakan ada kemungkinan saya terkena gejala awal Limfoma. Saya bahkan ibadah minggu di 2 kebaktian supaya bisa mendengarkan pujian saat teduh itu. Ketika mendengar paduan suara menyanyikan lagu itu, wajah saya langsung banjir air mata. Saya betul-betul tidak kuat, namun diingatkan kalau Tuhan masih ada. Dia sanggup mengangkat semua beban dan kuatir saya. Terimakasih paduan suara, kalian dipakai Tuhan dengan luar biasa. Saya percaya ada banyak jemaat yang mengalami Tuhan ketika mendengarkan paduan suara memuji Tuhan.

Peran kita di paduan suara sangat penting. Setiap kita tidak hanya sebagai penyanyi tetapi juga penyembah. Singer tidak bisa mengubah hidup orang namun Worshipper mengubah hidup orang lain. Ketika berada di altar, menyanyilah dengan menyembah dalam roh dan kebenaran. Kita dipanggil untuk menyenangkan hati Tuhan dan membawa pesan kepada jemaat untuk menyembah Tuhan.

Sewaktu mengikuti pembinaan di GII Mekarwangi beberapa waktu lalu, ada 3 poin yang begitu menarik hati saya, let me share:

  1. Worship begins on knowing God

Berbicara mengenai hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Setiap kita dituntut untuk dekat dan mengalami Tuhan, lewat firman Tuhan, jam doa, berbagai disiplin rohani yang lain termasuk mendoakan pujian yang kita naikkan.

 

  1. Worship is our life style

Worship not only  about singing. Sewaktu pelayanan Altar, posisi kita diantara Tuhan dan Jemaat. Kualitas hidup kita harus sejalan dengan pujian yang kita naikkan di Altar

 

  1. Tidak kurang dari yang terbaik.

Bila mengingat kesucian dan kekudusan Tuhan, kita tidak pernah layak melayani Dia. Hanya karena Anugrah Tuhan, maka kita boleh melayaniNya. Untuk setiap waktu yang masih Dia anugrahkan bagi kita, We should give the best.

Maleakhi 1: 8

 ‘Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? Firman Tuhan semesta alam.’

 

Penyembahan adalah sesuatu yang mengalir dari hati kita. Penyembahan lahir dari sebuah hubungan dengan Tuhan. Penyembahan kita tidak didasarkan oleh sebuah aransemen musik yang bagus atau sebuah lagu yang indah tetapi didasarkan hati yang mengasihi Tuhan. Mari ambil waktu untuk merefleksikan beberapa hal berikut:

*  Kondisi Hubungan Pribadi kita dengan Tuhan. Apakah kita tetap dengan setia merenungkan firman Tuhan, bertekun dalam doa dan senantiasa mencari kehendak Tuhan?

* Bagaimana kualitas hidup kita saat ini? Apakah sudah memberikan kesaksian hidup yang baik bagi sesama?

*  Sudahkah kita memberi sikap hati yang terbaik, tenaga yang terbaik dan menuntut diri kita di level limit kita?

 

Being The Last

Image

Malam ini, tiba-tiba teringat 2 orang sista ini. Mereka berdua tunangan di bulan ini dan akan segera menikah. Mendadak gue sempet sedih.
‘Yaahh..gue yang terakhir dong’
Secara ya, kami sama-sama temen seangkatan yang waktu zaman kuliah nge-kost bareng. Sebelumnya beberapa orang sudah menikah, tinggal kita bertiga yang belum. Nah sekarang, mereka berdua bakal menikah tahun ini.

Rasanya gimana gitu, diapit oleh 2 orang yang akan segera menikah. Huaaaa..

Gue mau share sesuatu, bukan kisah desperado gue karena ditinggal nikah sama mereka. Sebenarnya gue sempet terharu, temen-temen gue ini dapat yang terbaik dan mereka bakal dijagai sama suami yang baik.

Ada dua pengalaman mereka yang berkesan banget buat gue. Rasanya pengalaman mereka ini jadi pelajaran buat gue. Dalam beberapa waktu kehidupan, gue juga sempet mengalaminya.

1. Begitu berjuang untuk pria yang tidak tahu betapa berharganya kita
Kadang kala cewe bisa begitu buta karena cinta. Walaupun uda dingetkan sama banyak orang, dimarahin, bahkan uda tau busuk-busuknya seorang cowo. Tapi kalo namanya cinta buta uda hinggap. Semuanya ga mempan bok, cinta buta luar biasa aduhai.
Gue sempet terharu banget waktu salah seorang dari temen gue ini bilang kalo calon suaminya begitu menjagai dia. Ngebayangin dulu dia sempet ‘buta’, dalam hati gue bersyukur banget, Tuhan kasi yang terbaik untuknya.
Kagum banget sama cara Tuhan yang begitu menyayangi anakNya.
Bagaimanapun kita berjuang untuk suatu hubungan, tapi karena Tuhan begitu sayang sama kita, Dia ga mau ngasiin kita ke orang yang ga tepat.

2. Agresif yang ga kira-kira
Gimana rasanya punya temen yang ngecengin cowo, trus ngomong ke semua orang kalo dia lagi ngecengin orang tersebut. Hahahaha..bisa dianggap lelucon kali ya. Tapi gue pernah ada di posisi itu.
‘Dia punya gue ya, cup…cup…cup..jangan ada yang rebut..’
Kaya anak-anak banget kan gue.
Sekarang gue dalam proses bertobat, mikirin nasib gebetan gue juga sih. Hehehe..
Gue nya yang deg-deg an serrr kalo ketemu dia.
Dia jadi ga bisa biasa lihat gue karena dia uda tau dari orang lain kalo gue ngecengin dia.
Dan itu ga enak banget..benar- benar ga enak..
Kita jadi ga bisa ngobrol seperti biasa.
Lagipula gue jadi tersadar, ini agresif yang ga benar.
Menurut narasumber sewaktu launching buku Ketika Hati Berbicara (KHB), cewe itu baiknya agresif dari dalam. Dalam artian membuat dirinya jadi layak untuk dimiliki, dikejar oleh cowo. Bukan ngasitau semua orang kalo lagi suka sama seseorang.
Asli kan kekanakan gue ini.Sekarang gue mau kembali ke jalan yang benar. Biarkan orang itu datang dengan sendirinya, sementara gue membuat diri gue lebih bersinar.
Ehhh, kembali ke teman gue..
At the end, dia bukan menikahi kecengannya selama kuliah.
Gue yakin percaya kalo Tuhan kasi orang yang luar biasa untuk dia nikahi.
Jadi daripada sibuk ngecengin orang, gue memilih fokus belajar menjahit sekarang, fokus supaya kelihatan lebih kinclong hehehe…

*Selamat mempersiapkan pernikahan sistaaa..

Aku Begitu Mengasihimu

Entah sudah berapa kali aku berada di titik ini.

Rasanya begitu ingin menyerah.

Aku betul-betul mau menyerah, energiku terkuras, mataku lelah menangis.

Sampai sekarang aku belum mengerti apa yang bisa membuatmu sadar kalau aku begitu mengasihimu,

Begitu berartinya dirimu dan aku terus-menerus mengingatkan diri untuk tidak menyerah.

Apa yang bisa kulakukan untukmu?

Aku pun tak bisa membuatmu bahagia.

Akankah sabar itu tak boleh ada habisnya?

Aku mau lulus dari sekolah kesabaran ini.

Hikss…

Wajahku yang berlinang air mata ini, kakiku yang terseok ini, hidup sulit yang sedang kujalani ini tak bisa terhenti sampai disini.

Aku berhak mengejar mimpiku dengan tetap bertanggung jawab karena aku begitu mengasihimu.

Hai Kamu..

Hai kamu yang disana, apakah kamu sedang memikirkanku?

Adakah namaku di doamu?

Apakah kamu kangen ketika tak melihatku?

Ingatkah dirimu akan semua yang kukatakan?

Khawatirkah dirimu sewaktu aku sakit?

Kamu tahu bagaimana rasanya begitu merindukanmu?

Kamu tahu bagaimana desiran hatiku saat hanya ada kamu dihadapanku?

 

Aku menikmati rasa yang hanya tersimpan untukku ini.

Aku tak bisa berhenti memikirkanmu.

Namamu ada di setiap doaku.

Aku bahkan bisa begitu merindukanmu walau baru melihatmu.

Aku mengingat setiap perkataanmu yang pernah kudengar.

Aku khawatir tiap kali kamu sakit.

Merindukanmu membuatku merana, karena kutahu kau tak punya perasaan yang sama.

Bibirku tak mampu berkata apa-apa.

Semuanya hanya tersimpan untukku.